Indonesia memang menjadi salah satu negara yang masih memiliki banyak kepercayaan terhadap hal-hal yang tabu, terutama di daerah-daerah terpencil. Ada berbagai macam tradisi masyarakat di beberapa daerah Sulawesi Selatan dalam hal mengobati sanak saudara yang terkena penyakit keras. Satu diantaranya adalah tradisi unik yang ada dikampung Ulu Gabung, Sulawesi Selatan.
Hingga saat ini warga masih mempercayai tradisi mandi api atau yang disebut Akkawaru untuk menyembuhkan penyakit yang sulit disembuhkan secara medis. Tradisi ini merupakan warisan leluhur masyarakat Kare Mamampang.
Seorang pemuda asal Kampung Ulu Galung mengungkapkan awal mula tradisi Mandi Api, yakni setelah prajurit Kerajaan Mamampang saat itu sedang berperang. Tradisi itu dilakukan untuk membersihkan diri dari segala sakit yang diderita selama mengikuti perang.
Tradisi ini terus dilestarikan oleh keturunan Kare Mamampang. Dalam perkembangannya, Mandi Api kerap digelar saat ada salah satu keturunan Kare Mamampang mengalami sakit yang tidak bisa disembuhkan secara proses medis. Salah satu keturunan mereka yang sakit tiba-tiba dirasuki oleh roh leluhur dan menginginkan diobati dengan cara demikian.
Menurut seorang pemuda asal Kampung Ulung tersebut, tradisi itu tidak bisa digelar ketika tidak ada permintaan dari salah satu keluarga keturunan Kare Mamampang yang sakit. Meski diantara keturunannya sakit, tapi tidak ada permintaan roh leluhur yang ingin merasukinya, maka tradisi itu tidak akan bisa digelar.
Setelah salah satu keturunan yang mengalami sakit itu dirasuki oleh roh leluhur dan meminta digelar ritual Mandi Api, maka peserta ritual harus dari keturunan Kare Mamampang lainnya. Tidak boleh dilakukan oleh orang yang bukan keturunan langsung Kare Mamampang.
Jika sudah ada permintaan dari roh leluhur yang merasuk pada tubuh keturunan yang sakit itu, maka ritual membaca doa akan langsung dilakukan oleh keturunan tertua yang bertempat di sebuah gubuk yang berada di pinggir hutan Ulu Galung. Dalam ritual doa itu pun turut diletakkan tiga jenis nasi ketan, yakni ketan berwarna merah, hitam dan putih. Tidak hanya itu, senjata pusaka milik Kare Mamampang turut dihadirkan berupa tombak, keris dan parang.
Bukan hanya itu saja, benang hitam dan benda pusaka yang telah dibungkus kain merah wajib hadir dalam sesajen ritual doa khusus yang dipimpin oleh keturunan tertua Kare Mamampang. Setelah doa usai dilakukan, para keturunan yang akan ikut dalam tradisi Mandi Api diwajibkan untuk mengenakan benang hitam yang telah diisi dengan doa khhusus.
Selanjutnya, para keturunan itu melakukan aksi bertelanjang dada dan kaki berkeliling Kampung Ulu Galung dengan membawa senjata pusaka Kare Mamampang. Kemudian pelaksana ritual itu masuk kedalam kobaran api yang telah dinyalakan dari gundukan daun lontar setinggi enam meter yang telah dibakar.
Selama prosesi Mandi api, tidak ada sedikit pun luka bakar yang dialami oleh keturunan Mamampang yang ikut dalam ritual. Meski ritual mandi api itu dilakukan sebanyak tiga kali. Dimana setelah api padam dengan sendirinya, kemudian dinyalakan lagi sebanyak tiga kali.
Peserta ritual akan berhenti mandi api saat api sudah padam dengan sednirinya. Padamnya api itu juga diyakini bahwa penyakit yang diderita oleh keturunan yang sakit itu sudah sembuh. Ritual ini dapat dilakukan karena adanya perlindungan Tuhan melalui benang hitam yang dikenakan oleh para peserta ritual.
Jika benang itu sampai putus, maka peserta yang ikut dalam tradisi Mandi Api akan terpanggang. Namun benang hitam itu sebelumnya telah diisi oleh doa pada ritual pengisian doa yang digelar di gubuk. Meski tradisi ini masih terjaga, tak ada agenda pasti kpaan akan digelar kembali lantaran prosesi sakral hanya bisa digelar ketika ada keturunan Kare Mamampang yang menderita sakit keras dan dirasuki oleh leluhur.


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !